Taat Kepada Perintah di dalam Ketaatan Kepada Tuhan


Minggu XVIII Setelah Trinitatis, 19 Oktober 2014
Matius 22 : 15 -22

Perikop ini menampilkan intrik politik yang dihalalkan para orang – orang Farisi. Mereka memakai orang lain untuk memuji pengajaran Yesus sekaligus mengajukan pertanyaan ; apakah kami diperbolehkan membayar pajak kepada kaisar? Orang – orang Farisi sebenarnya secara politis bertentangan posisi dengan pemerintah Roma. Mereka adalah pembrontak yang selalu berusaha melawan kebujakan – kebijakan pemerintah Roma termasuk pembayaran pajak. Mereka cenderung anti Kaisar (Pemerintahan Romawi).

Sungguh aneh tapi nyata , bahwa untuk melawan Yesus mereka “Berkolusi” dan kompromi dengan pemerintah Romawi dengan menyuruh orang lain (murid – murid Farisi dan orang – orang Herodes) datang kepada Yesus. Menurut anggapan mereka itulah cara yang tepat untuk menjerat Yesus demi tujuan mereka bersama, sebab menurut mereka Yesus hanya berurusan dengan hal rohani saja.

Mereka tidak membayangkan bagaimana cara yesus menjawab pertanyaan mereka. Kelicikan mereka dilucuti dengan jawaban Yesus yang sungguh bijaksanadan mengherankan (ay. 19 – 21) . Pada mata uang yang dipakai sebagai alat pembayaran yag sah, tertera tulisan dan gambar Kaisar (ay. 21). Mereka bungkam dan tidak berkutik lagi. Sungguh menarik bahwa jawaban Yesus itu mengandung ajaran agar para peminpin agama Yahudi belajar taat kepada Allah dan menghormati Kaisar (pemerintah). Mereka harus memberikan apa yang wajib diberikan kepada Allah dan apa yang wajib diberikan kepada Kaisar (pemerintah). Mereka harus tau member ibadah dan taat kepada Allah dan ketaatan sipil yaitu kewajibannya kapada Kaisar. Orang Kristen adalah warga Negara yang baik dan jujur didalam pemerintahan Negara. Di dalam kehidupan orang – orang Kristen, Allah memiliki kata terakhir dan bukanlah Negara. Suara hati lebih nyaring daripada suara hukum – hukum yang diciptakan oleh manusia. Orang Kristen adalah sekaligus pelayan dan suara hati Negara. Justru oleh sebab ia adalah orang yang terbaik dari warga Negara, maka ia akan menolak untuk melakukan apa yang tidak dapat dilakukan oleh seorang Kristen. Ia mau pada saat yang sama takut akan Allah dan menghormati raja. (Pdt. Rumanto Sibarani)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s