Minggu VII Setelah Trinitatis, 03 Agustus 2014
(Yesaya 55:1-5)
Seperti seorang penjual dipasar mengajak orang memperhatikan barang jualannya, demikanlah nabi Yesaya memanggil atas nama Tuhan, bukan untuk pangan saja melainkan untuk teurut dalam suatu jamuan; menikmati hasil tanah yang Tuhan janjikan kepada umatNya. Tanpa bayaran orang-orang diundang untuk makan dan minum menikmati sampai kenyang.
Melalui undangan ini nabi Yesaya menyerukan kepada umatNya bahwa hukuman telah berakhir, Tuhan mengingat janjiNya. Umat Tuhan akan pulang dari pembuangan dan akan kembali ke negeri mereka di Kanaan. Undangan untuk menikmati jamuan Tuhan tidak perlu dibeli atau dibayar dengan uang tetapi bukan berarti “murahan” hanya dibayar dengan iman kepercayaan. Umat Tuhan akan menikmati berkat Tuhan yang berkelimpahan (Kemerdekaan dan keselamatan) bila : mereka mendengar Tuhan dengan sungguh-sungguh, setia di dalam janjinya kepada Tuhan, bila mereka mencari Tuhan dan meninggalkan segala kejahatan mereka. Dalam perjanjian dengan umatNya dikukuhkan bahwa kasih setia Tuhan tidak akan hilang dari umatNya, bahkan keturunannya dan kerajaannya ( Daud) akan kokoh selama-lamanya.
Tuhan mengundang kita pula makan roti dan minum anggur yang disediakanNya sebagai tanda perjanjian yang telah diikrarkanNya dalam maut, yang telah dijaminNya di dalam kebangkitan PutraNya Yesus Kristus Tuhan kita. Di meja Tuhan kita dipersatukan dengan Dia, agar kitapun dapat diutus sebagai saksi-saksi anugerahNya, yang mengundang sekalian bangsa untuk datang berlari kepada Tuhan kita Yesus Kristus. Di meja Tuhan Firman Allah selalu diberitakan dan kita boleh menerima hidup dengan berkelimpahan. Allah selalu berfirman memanggil kita kepada hidup yang berkelimpahan, bukan hanya untuk datang dikebaktian, tetapi juga di dalam hukuman (penderitaan, persoalan hidup) yang kita alami. Rancangan Tuhan adalah rancangan kemerdekaan, panggilanNya selalu membawa sukacita, biar ditengah kepahitan hidup sekalipun kepada mereka yang menerimanya, tetapi kekecewaan kepada mereka yang tidak memperhatikannya. Dalam hidup kita pribadi masing-masing ada pula saat-saatnya Tuhan mau melimpahkan berkatnya bagi kita, asal kita saja rela menjalankan rancangan-rancanganNya, belajar percaya dan menjalankan kehendak Allah dan melaksanakan firman Allah dengan tenaga yang dikaruniakan kepada kita masing-masing, agar melalui kita Firman Tuhan menghasilkan suka cita bagi orang-orang lain, biar sedikit atau banyak. (Pdt. Rumantho Sibarani)
