Ragu terhadap Allah artinya iblis sedang bekerja


Minggu V Setelah Trinitatis, 20 Juli 2014
Jesaya 44:6-8

Seseorang pernah berkata seperti ini: “untuk menerima keselamatan dari Allah, percaya saja tidaklah cukup, namun harus beriman”. Kalimat ini ada benarnya jika kita pisah kata ‘percaya’ dengan ‘iman’. Menurut Theologia, beriman mengandung unsur percaya, namun orang yang percaya bukan berarti telah beriman. Dalam iman terkandung unsur kesetiaan, perbuatan, penyerahan diri serta kepercayaan. Saat ini kita hidup dalam sebuah lingkungan, dimana setiap individu akan berinteraksi dengan manusia lainnya yang notabene tidak seiman dengan kita. Mungkin peradaban manusia telah berkembang, tetapi nilai-nilai agama seolah menjadi tabu untuk dibicarakan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan kondisi yang demikian, satu ruang untuk pemberitaan Injil melalui perkataan telah tertutup, karena itu, tentang iman bisa saja melulu menjadi urusan hati tanpa perlu untuk dibicarakan.Pertanyaan retorika dari Yesaya mungkin perlu untuk kita renungkan. Jika saat ini, setiap orang dimungkinkan untuk berinteraksi dengan lingkungan yang tidak lagi satu paham dengan kita, tentu paham agama yang kita miliki pun dimungkinkan untuk berubah, jika dasar agama yang kita miliki tidak berakar dan bertumbuh. Sekiranya datang tantangan yang mengatakan: “buktikan kepadaku Allah yang engkau percayai adalah Allah yang berkuasa”, lalu yang memberi tantangan tersebut dapat menunjukkan kekuasaan Allahnya, bisa saja kita orang yang percaya menjadi beralih kepada paham yang dimiliki orang tersebut. Mengapa ini terjadi? Karena kita mungkin telah menjadi orang yang percaya tanpa beriman. Hal ini juga yang terjadi pada bangsa Allah, ketika mereka hidup dalam pembuangan Babel, seolah-olah Allah Israel tidak lagi eksis, mereka menjadi ragu terhadap kuasa Allah yang telah mengangkat mereka menjadi bangsaNya. Keraguan itulah yang ingin ditepis oleh Yesaya, sehingga Yesaya menantang mereka dengan kalimat retorika, yang seluruh jawabannya pasti meng’ia’kan kalimat tersebut. Kehidupan iman orang-orang percaya ternyata dikelilingi oleh kejahatan. Mereka hidup seperti kita, berbuat seperti kita, berkata sama seperti kita, tetapi hanya satu yang membedakan, kita memiliki iman. Karena itu bertahan di dalam iman adalah satu-satunya jawaban agar menjadi gandum yang berbuah sekalipun hidup di antara lalang yang menghimpit. Tetaplah setia, tetaplah bertumbuh dan nantikan, jika tiba saatnya kita akan berbuah yang pada akhirnya kita dipisahkan dari ilalang dan mas

uk dalam kumpulan orang-orang yang beriman dimana Allah menjadi pemimpinnya. (Pdt. KM- Taman Adiyasa).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s