Memilih yang terbaik


Tidak gampang menjatuhkan pilihan. Mengapa? Karena banyak sekali pertimbangannya. Kita harus tundukkan mata, hati dan keinginan kita. Sementara ketiga hal itu ada dalam diri kita. Mata kita bisa saja menjatuhkan pilihan kepada objek, tapi hati belum tentu menerima, demikian juga keinginan.

Bila hati menjatuhkan pilihan, belum tentu mata terpuaskan dan keinginan tercukupi. Bagaimana dengan keinginan? Apalagi itu, dia lebih banyak pantangannya. Karena biasanya keinginan itu tidak pernah senang dengan yang sedih-sedih, yang pahit-pahit, yang sakit-sakit, maunya yang enak-enak dan manis-manis, maunya bahagia dan senang selalu. Wah… repot juga kalau begini. Itu makanya dikatakan di awal, tidak gampang menjatuhkan pilihan atau menentukan keputusan. Tapi tidak lantas kita tidak memilih atau mengambil keputusan. Itu lebih salah lagi
Baru saja kita memilih anggota legislatif. Tentu kita yang tahu bagaimana kita memakai hak pilih kita. Ketika kita memakai hak pilih kita, itu saja sudah cukup baik. Selanjutnya, tinggal diri kita sendiri, apakah yang kita pilih itu adalah yang baik menurut kita, tergantung kepada diri kita sendiri. Babak kedua masih di depan mata. Pemilu Presiden dan Wakil Presiden. Kembali hak pilih kita ditawar memilih dan memutuskan yang terbaik buat bangsa dan negara termasuk kelangsungan beribadah lintas umat beragama, agar terjalin keharmonisan dan kerjasama memperbaiki karakter bangsa.

Kembali ke awal tadi. Mata, hati dan keinginan kita akan diuji. Mata pasti akan melihat penampilan, bisa wajah, postur dan status. Hati melihat yang tak tampak, tapi cenderung ingin kenyamanan. Dan keinginan selalu mau yang instan, cepat, misalnya menerima sesuatu, bisa uang, bisa benda/materi atau janji-janji cepat.

Ketiga hal itu harus dikoordinasikan agar tercapai pilihan yang terbaik. Siapa pihak yang sanggup mengkordinirnya? Tentulah hikmat. Hikmat adalah pemberian Allah, tidak digali dari diri manusia. Menundukkan mata, hati dan keinginan pada hikmat akan menelorkan pilihan dan menghasilkan keputusan yang terbaik. Hikmat berkerja atas kuasa Roh Kudus. Menundukkan diri pada hikmat berarti membiarkan diri ditentun oleh Roh. Rasul Paulus mengatakan: Hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Hikmat akan menuntun kita melihat, mencari dan berusaha untuk mengenal kepada siapa jatuh pilihan kita. Tundukkanlah hidup pada Roh Kudus, maka saat itu kita akan dituntun memilih yang terbaik. Kita hidup dalam berbagai pilihan. Mau tidak mau kita dituntut untuk menjatuhkan pilihan dan mengambil keputusan. Hanya ada satu kunci untuk itu. Beri diri dituntun Roh Kudus. Tundukkan keinginan dirimu! (Editor)

Disadur dari Buku Ibadah Harian

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s