Mazmur 16:1
Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung.
PANGGILAN BERIBADAH:
Kita hidup oleh belas kasihan Tuhan, karena itu marilah kita beribadah dan memuji namaNya setiap hari. Amin.
BERNYANYI KJ. 235:4 KUDENGAR BERKATMU TURUN
Mampirlah, ya Roh perkasa, t’rangi mata hatiku; sabda Kristus b’ri berkuasa
dalam diri hambaMu. Aku pun, aku pun, ya, terangi aku pun!
PEMBACAAN FIRMAN : Yehezkiel 12:17-28
JAGALAH AKU, YA TUHAN
Allah kerap kali dihubungkan dengan perlindungan. Itu sebabnya kita kerap mendengar Allah disebut sebagai benteng perlindungan, gunung batu, batu karang, gembala, dan sebagainya. Ibarat sedang dalam pertempuran, kita memohon Allah jadi benteng pelindung tatkala musuh datang mendekat. Konsep seperti ini sangat jamak kita temukan di dalam Perjanjian Lama, termasuk dalam kitab Mazmur.
Dalam Mazmur 118:8-9 Pemazmur berkata: “Dengganan marhaporusan tu Jahowa, asa marhaposan tu jolma. Dengganan marhaporusan tu Jahowa, asa marhaposan tu angka raja.” Benarkah Tuhan penjaga dan perlindungan kita? Jangan-jangan kita lebih percaya pada kekuatan uang? Jangan-jangan kita lebih yakin pada kekuatan koneksi?
Ungkapan bijak berkata: musuh terbesar manusia adalah dirinya sendiri. Ketidakmampuan untuk menguasai diri sering mendatangkan bencana. Beberapa waktu lalu ada cerita pilu tentang Ade Sara. Ade Sara dibunuh oleh Hafitd dan Assyifa. Hafitd adalah mantan pacar Ade Sara. Assyifa adalah teman Ade Sara, yang juga pacar dari Hafitd. Apa motif pembunuhan ini? Dari pemberitaan media kita menyimpulkan motif kedua pembunuh sama: amarah dan cemburu. Hafitd marah dan cemburu karena Ade Sara tak mau lagi kembali padanya. Sementara Assyifa cemburu dan marah karena ternyata Ade Sara masih disukai Hafitd. Fakta yang paling menyedihkan adalah mereka bertiga masih sangat muda. Amarah dan cemburu datang dari dalam diri manusia. Jika tak mampu mengalahkannya, bencana di depan mata. Kain membunuh adiknya Habel karena hatinya sangat panas oleh kecemburuan. Kita harus lebih sering berdoa agar Tuhan menjaga kita dari diri kita sendiri; dari kemarahan, kecemburuan, keinginan-keinginan untuk memiliki lebih dari yang kita mampu.
BERDOA
BERNYANYI BE. 149:1 HO TONGTONG IHUTHONONHU
Ho tongtong ihuthononku Jesus Sipangolu au, tung na so tadingkononku Ho, na paluahon au
Sian sasude dosangku dohot sian uhum i. Na tongtong habiaranku ala pardosaonki.
DOA BAPA KAMI
Menyanyikan BE. 36:1 Pasupasu Hami
Pasupasu hami O Debatanami, sai sondanghon bohiMi tu na pungu on sude.
