Menghadirkan Syalom Allah


Minggu Rogate, 25 Mei 2014
Sekaligus Memperingati Hari Ulang Tahun PGI Ke-64 Tahun
MENGHADIRKAN SYALOM ALLAH
1 Petrus 3:8-12

Kata “Syalom” sering kita pergunakan dalam menyapa seseorang atau sebagai sapaan ketika kita ingin memulai sebuah kegiatan. Syalom memiliki arti yang banyak, bukan saja damai sejahtera. Proteksi/Perlindungan (Imamat 26:3-6); Keamanan (Ayub 21:9); Kesehatan (Kejadian 43:27); Kemakmuran/Sentosa (Mazmur 122:6); Keadaan Baik/Tidak Celaka (Kejadian 37:14); Ketenangan/Ketentraman (Kejadian 43:23), dan masih banyak yang lain. Namun yang menjadi pertanyaan ketika kita menyapa orang lain dengan perkataan syalom, “damai sejahtera dari siapa dan untuk siapa?” Penggunaan Syalom tidak terlepas dari tradisi Yahudi maupun Kristen mula-mula. Pada Yahudi, salam yang digunakan adalah: “Syalom Alaikhem” yang berarti “Damai Sejahteralah bagimu”, maka balasan yang tepat adalah “Alalaikhem Syalom” yang berarti “bagimu jugalah Damai Sejahtera”.

Tradisi ini terbawa sampai kepada dunia Kristen mula-mula dengan mengucapkan salam: “Syalom Aleikhem b’Shem Yeshua Ha Mashiakh” atau biasa diucapkan dengan: “Syalom Aleikhem b’Shem Ha Mashiakh” yang artinya Damai kiranya menyertaimu di dalam nama Sang Kristus. Ini adalah salam yang tersusun dalam bentuk doa. Namun perkembangan jaman yang serba praktis mengikis penggunaan salam yang begitu panjang ini. Sehingga ucapan dipersingkat dengan “syalom”. Kata “syalom” sendiri tidak menunjukkan makna yang berarti, atau dapat dikatakan hanya sebatas lips service. Kita menghawatirkan nantinya syalom ini pun akan disingkat menjadi “lom” yang sama sekali tidak berarti apa-apa. Pengertian ini tidak terlepas dari menghadirkan Syalom Allah bagi Indonesia. Jelas sekali untuk mewujudkan syalom Allah di tengah-tengah bangsa Indonesia ini haruslah dimulai dari diri sendiri, bukan dari kelompok. Karena itu jika kita terbiasa untuk membagi-bagikan syalom Allah bagi orang lain, itu artinya kita telah hidup di dalam syalom itu sendiri.

Membiasakan diri dengan mengucapkan salam yang bernuansa doa, itu adalah bentuk eksistensi orang-orang Kristen. Karena Yesus mengajarkan: “Berdoalah bagi orang yang menganiaya kamu”. Jikalau doapun tidak lagi terdengar dari mulut orang-orang percaya, bagaimana mungkin orang-orang percaya dapat menghadirkan syalom Allah bagi Indonesia. Nas kita saat ini mengajarkan secara tekhnik untuk mewujudkan syalom itu. Tekhnik yang ditunjukkan bukan sebagai pergerakan yang terjadi dengan dibuat-buat, tetapi haruslah lahir dari hati yang percaya kepada Kristus sebagai bentuk kelahiran baru. Keseluruhan hidup haruslah menunjukkan eksistensi syalom Allah itu sendiri, bukan saja hati atau sikap namun anggota tubuh (badani) juga ikut mengarahkan pergerakan tubuh untuk mewujudkan syalom Allah tersebut.

Karena itu, menghadirkan syalom Allah, terlebih dahulu hidup di dalam Syalom Allah. Ketika setiap orang yang percaya telah hidup dalam Syalom Allah, maka setidaknya setiap orang akan mentransfer syalom Allah itu kepada orang-orang di sekelilingnya. Damai kiranya menyertaimu di dalam nama Sang Kristus: “Syalom Aleikhem b’Shem Yeshua Ha Mashiakh”. Amin. (Pdt. Kadir Manullang – HBKP Taman Adiyasa)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s