Arsip Kategori: Lain-lain

Dimanakah Perabotan kita?


Ada seorang pengembara yang baru saja tiba di negeri timur tengah..
Orang ini mendengar ada seorang yang bijaksana di negeri itu, dan dia ingin menemui orang tersebut..

Orang yang bijaksana ini dikenal sebagai orang yang saleh dan baik hati, semua orang disitu menghormati dan mengasihi orang yang bijaksana ini, sehingga tidak sulit jika ingin menemuinya..

Setiap kali pengembara / pemuda ini bertanya dimana rumah orang yang kabarnya bijaksana itu, setiap penduduk selalu menunjuk ke arah ujung perkampungan dimana yang hanya berdiri sebuah gubuk reyot..

Ketika pemuda itu mengetuk pintu gubuk itu, muncul seorang pria tua yang mempersilahkan dia masuk kedalam..

Pengembara tersebut sangat terkejut mendapati bahwa orang yang kabarnya bijaksana itu tinggal di sebuah gubuk reyot yang isi rumahnya hanya sebuah meja, sebuah kursi, satu kompor dan alat memasak saja..

Karena merasa tidak nyaman, pemuda ini bertanya kepada sang kakek itu , “Dimana perabotan rumah anda..?”

Orang tua tadi berbalik bertanya kepada pemuda itu dengan lembut, “Mana milik anda..?”

Pemuda itu terkejut ketika orang tua itu berbalik bertanya kepadanya, lalu ia menjawab “Tentu saja dirumah saya.. Saya kan sedang merantau, tidak mungkin saya membawa perabotan saya kan…”

Lalu orang tua yang bijak itu berkata “Saya juga.. Saya kan sedang merantau di dunia ini, jadi tidak mungkin saya membawanya..”

*Pemuda itu hanya terdiam

Nah..
Apakah kita sadar bahwa kita sebenarnya adalah perantau di dunia ini..?
Rumah kita berada di surga dimana Tuhan sudah mempersiapkannya bagi kita…

Namun banyak orang saat ini melupakan bahwa diri mereka adalah perantau, sehingga yang mereka sibukkan adalah mengumpulkan harta didunia ini. Padahal pada akhirnya nanti semua harta di dunia itu tidak akan bisa mereka bawa ketika tiba saatnya pulang ke rumah Bapa..

Janganlah lupakan bahwa kita adalah perantau didunia ini. Gunakanlah kekayaan duniawi ini untuk menghasilkan kekayaan Surgawi.. (Stefanus Felix)

Garis Tangan


Suatu kali, di Taiwan ada seorang konglomerat dan pengusaha kaya. Hebatnya, kekayaan itu menurut banyak pihak diperoleh benar-benar dari nol. Karena itu, apa yg dilakukannya mampu menginspirasi banyak orang..

Suatu ketika, karena penasaran, ada seorang pemuda ingin belajar menimba pengalaman dari sang pengusaha. Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya sang pemuda berhasil menemui si pengusaha sukses.

“Terimakasih Bapak mau menerima saya. Terus terang saya sangat ingin menimba pengalaman dari Bapak shingga bisa sukses seperti Bapak,” ujar pemuda itu.

Mendengar permintaan itu, sang pengusaha tersenyum sejenak. Kemudian, ia pun meminta anak muda tadi menengadahkan tangannya. Si pemuda pun terheran-heran. Namun, lantas si pengusahapun menjelaskan maksudnya. “Biar aku lihat garis tanganmu. Dan, simaklah baik-baik apa pendapatku tentangmu sebelum aku memberikan pelajaran seperti yg kamu minta,” jawab pengusaha tersebut. Setelah menengadahkan kedua tangannya, si pengusaha pun berkata, “Lihatlah telapak tanganmu ini. Di sini ada beberapa garis utama yang menentukan nasib. Di sana ada garis kehidupan. Kemudian, di sini ada garis rezeki dan ada pula garis jodoh.

Sekarang, menggenggamlah. Di mana semua garis tadi?”
“Di dalam telapak tangan yang saya genggam.” Jawab si pemuda yg penasaran.
“Nah, apa artinya itu? Hal itu mengandung arti, bahwa apapun takdir dan keadaanmu kelak, semua itu ada dalam genggamanmu sendiri. Kamu lihat bukan? Bahwa semua garis tadi ada di tanganmu. Dan, begitulah rahasia suksesku selama ini. Aku berjuang dan berusaha dengan berbagai cara utk menentukan nasibku sendiri,” terang si pengusaha. “Tetapi coba lihat pula genggamanmu. Bukankah masih ada garis yg tidak ikut tergenggam? Sisa garis itulah yang berada di luar kendalimu. Karena di sanalah letak kekuatan spiritual dari Sang Maha Pencipta yang kita dimana kita tidak dapat mendapatkan itu tanpa Tuhan.

Ingat Bebek


Ada seorang bocah laki-laki sedang berkunjung ke kakek dan neneknya di pertanian mereka. Dia mendapat sebuah katapel untuk bermain-main di hutan. Dia berlatih dan berlatih tetapi tidak pernah berhasil mengenai sasaran. Dengan kesal dia kembali pulang untuk makan malam.

Pada waktu pulang, dilihatnya bebek🦆🦆🦆peliharaan neneknya. Masih dalam keadaan kesal, dibidiknya bebek itu dikepala, matilah si bebek.

Dia terperanjat dan sedih.
Dengan panik, disembunyikannya bangkai bebek didalam timbunan kayu, dilihatnya ada kakak perempuannya mengawasi. Sally melihat semuanya, tetapi tidak berkata apapun.

Setelah makan, nenek berkata, “Sally, cuci piring.”

Tetapi Sally berkata, “Nenek, Johnny berkata bahwa dia ingin membantu didapur, bukankah demikian Johnny? ” Dan Sally berbisik, “Ingat bebek?

Jadi Johnny mencuci piring.

Kemudian kakek menawarkan bila anak-anak mau pergi memancing, dan nenek berkata, “Maafkan, tetapi aku perlu Sally untuk membantu menyiapkan makanan.”

Tetapi Sally tersenyum dan berkata, “Tidak apa-apa, karena Johnny memberitahu kalau ingin membantu.” Kembali dia berbisik, ” Ingat bebek?

Jadi Sally pergi memancing dan Johnny tinggal dirumah.

Setelah beberapa hari Johnny mengerjakan tugas-tugasnya dan juga tugas-tugas Sally, akhirnya dia tidak dapat bertahan lagi.Ditemuinya nenek dan mengaku telah membunuh bebek neneknya dan meminta ampun.

Nenek berlutut dan merangkulnya, katanya, “Sayangku, aku tahu. Tidakkah kau lihat, aku berdiri di jendela dan melihat semuanya. Karena aku mencintaimu, aku memaafkan. Hanya aku heran berapa lama engkau akan membiarkan Sally memanfaatkanmu.”

Aku tidak tahu masa lalumu. Aku tidak tahu dosa apakah yang dilemparkan musuh kemukamu. Tetapi apapun itu, aku ingin memberitahu sesuatu. Tuhan juga selalu berdiri di ‘jendela‘. Dan Dia melihat segalanya.

Dan karena Dia mencintaimu, Dia akan mengampunimu bila engkau memintanya. Hanya Dia heran melihat berapa lama engkau membiarkan musuh memperbudakmu.

Hal yang luar biasa adalah Dia tidak hanya mengampuni, tetapi Dia juga tidak mengingat-ingat lagi dosamu.”

Memeriksa Kehidupan Rohani atau Spiritualitas (Soul Check-up)


Dalam rangka Tahun Kesehatan & Kebersihan dalam Lingkungan Hidup

Soul check adalah salah satu kegiatan untuk menelusuri bagian-bagian rohani kita yang mengalami kekeringan, kekecewaan, kedangkalan atau apapun itu yang menghambat kita untuk dekat dengan Tuhan, menghambat mengasihi sesama dan menghambat hidup kita untuk berbuah. Jhonson dan Dreitcer, para teolog yang memberi perhatian terhadap pelayanan gereja terhadap jemaat, melihat bahwa pada kenyataan orang banyak mengalami kelaparan dan penyimpangan bentuk spritualitas yang membuat jiwa seseorang itu tidak sehat. Beberapa di antaranya adalah spritualitas munafik, spritualitas exhibitionistic yang ingin dipuji dan diperhatikan, spritualitas pelarian (escapist) dari tanggung jawab, spritualitas yang ditampilkan dengan kepura-puraan seperti yang ditunjukkan oleh para nabi-nabi palsu, spritualitas yang memilih tempat pekerjaan yang enak saja dan takut berkomitmen untuk kerja keras dalam pelayanan, spiritualitas yang lemah ketika menghadapi pergumulan dalam pekerjaan, keluarga dan sebagainya. Sehingga jika tidak dilakukan pemeriksaan maka dia bisa merasa benar sendiri, tidak ada yang salah bahkan dia akan terus bergerak ke arah yang semakin dalam membawanya ke tempat yang membahayakan jiwanya.

Belakangan ini banyak orang mengalami kedangkalan dan kekeringan spritual bahkan di antara mereka sudah ada yang meragukan pentingnya dan kekuatan hidup dalam berdoa, berefleksi, membaca bacaan rohani, retreat, dan kegiatan rohani lainnya karena kesibukan dan kebosanan untuk ikut terlibat di dalamnya. Gelombang post-modernis, pasca-denominasional, sekularis, dan pluralis juga turut berperan membuat keringnya spritualitas belakangan ini. Gelombang ini jika tidak disikapi dengan baik maka bisa menyebabkan lunturnya nilai-nilai kebenaran dan kepastian tentang Allah dalam hidupnya. Kehausan itu ditandai dengan gerakan meninggalkan semua kepastian tentang masa lampau, seperti kepastian religius, ilmiah, kultural, politik, dan historis. Begitu juga ketertarikan masyarakat kepada drakula, makhluk asing, magi, klenik, atau dunia paranormal. Semuanya ini mempesona dan memiliki daya tarik tersendiri mengalahkan pesona Gereja yang dipenuhi dengan berbagai skandal dan sikap yang ekslusif, memecah, dan opresif. Kekayaan dan kemajuan ilmiah yang semulanya diharapkan mensejahterakan masyarakat luas justru membuat merasa tidak aman atas kejadian peperangan, pembunuhan, kekerasan institusional, terorisme, dan perusakan lingkungan hidup. Kepastian budaya masa lalu yang menuntun dalam praktik kehidupan sehari-hari saat ini seolah-olah tenggelam dan beralih kepada berbagai praktik yang mereka anggap tepat dan baik seperti minuman, harta, olahraga, pertunjukkan, seks, dan sebagainya. Begitu juga praktik politik yang memanfaatkan fundamentalisme religius masa lalu untuk mengamankan kepentingan politis pribadi maupun kelompok sering menciptakan kekerasan di tengah masyarakat luas. Banyak bentuk kekerasan yang terjadi di tengah masyarakat pengaruh fundamentaslime tersebut seperti terorisme, bom bunuh diri, kekerasan institusional dan sebagainya.
Tulisan ini bertujuan mengajak kita untuk melakukan soul check-up atau memeriksa kehidupan rohani atau spiritualitas kita. Kegiatan soul check-up diharapkan bisa memberi kesadaran dan meyakinkan langkahnya untuk datang ke Sumur Yang memancarkan kesegaran yaitu Tuhan Allah sendiri untuk mengisi kekeringan rohani kita dengan berdiam atau beristirahat dalam Allah dalam keheningan. Dialah dasar yang benar dan Sumber kehidupan yang sejati.

Manusia adalah makhluk rohani. Kata “rohani” berasal dari kata Ibrani yaitu ruah yang artinya nafas. Manusia hidup karena adanya nafas. Hidup manusia dianggap suci, karena berkaitan dengan Yang-Ilahi sebagai Pemberi Hidup. Tuhan sebagai sumber serta pendukung kehidupan di dalam tubuh dianggap berkarya di dalam diri manusia. Jadi, menyebut manusia sebagai makhluk rohani mengemukakan, bahwa manusia sanggup berhubungan dengan Sang Sumber hidupnya. Pepatah kuno mengatakan: “Bernafas adalah berdoa. Atau dengan kata lain, doa adalah nafas kehidupan.”

Spritualitas adalah istilah yang menandakan kerohanian atau hidup rohani atau kesalehan. Dasar hidup rohani dan semua bentuk spiritualitas sejati adalah Roh (bahasa Latin Spiritus) yaitu Roh Kristus. Spiritualitas berasal dari kata “Spirit” yang dalam Bahasa Ibrani memakai kata ruach, Yunani dengan kata pneuma dan kata Latin yaitu spirare, yang berarti “Roh Kudus”. Jadi spiritualitas dapat diartikan “kehidupan orang beriman yang didiami, disucikan dan dipimpin oleh Roh Kudus sehingga menghasilkan buah-buah Roh.” Orang yang peka akan mengalami buah kehadiran Roh dalam hatinya (bnd. Rom. 8, 16).

Belakangan ada kalangan yang mencoba memisahkan hidup berteologia dengan hidup kerohanian. Orang berteologia atau mahir mengetahui tentang tema-tema teologia tapi belum tentu hidup kerohaniannya baik karena teologia itu hanya dipandang sebagai ilmu pengetahuan saja. Di sisi lain, hidup kerohanian tanpa dasar teologia yang jelas itu pun lebih buruk daripada hidup tidak secara rohani. Ada juga hidup rohani hanya sekedar pemuasan kebutuhan manusia. Jadi tidak penting sibuk memahami isu-isu teologia yang penting mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Oleh karena itu, hidup kerohanian adalah hubungan kita dengan Tuhan yang menyadari kehadiran

Sang Ilahi dalam lingkungan hidup kita serta mendasarkan hubungan sebagai makhluk yang berakalbudi dan berkehendak bebas, sehingga dapat mengerti dan mencinta di dalam Tuhan.

Soul check-up yang pertama: mengenal kebutuhan kita. Kehidupan spritual dimulai dari kebutuhan, membutuhkan Tuhan dan ekspressi Tuhan dalam hidup kita seperti penyembuhan, belas kasih, keadilan, pengertian, dan kasih. Dengan mengenal apa yang menjadi kebutuhan kita yang terdalam maka kita dapat mengenal Tuhan. Mencari tahu apa yang menjadi kebutuhan akan mengarahkan jalan yang benar untuk mencapainya. Kesalahan mengenal kebutuhan kita, seperti perempuan Samaria yang selalu mengambil air dari sumur, ia tidak mengalami sebuah perubahan yang lebih baik. Setelah ia berjumpa dengan Yesus dan menemukan Tuhan, ia pun mendapat sebuah pemahaman yang baru dengan mengetahui apa yang menjadi kebutuhannya. Ia pun menemukan visi yang baru dalam hidupnya yang merubah paradigma dan hidupnya.

Soul check-up yang kedua, mengenal Allah. Pengenalan akan Allah menjadi hal penting karena Allah merupakan jawaban dari semua kebutuhan kita. Setelah mengenal kebutuhan dan Allah maka langkah selanjutnya yaitu mengenal hubungan kita dengan Allah. Melalui hubungan yang mendalam dengan Tuhan memberi kesadaran keagungan Allah dan kita semakin kecil tenggelam tidak ada apa-apanya bahkan semua kebutuhan kita melebur dan lenyap. Perjalanan spritual bersama Tuhan akan memberi kesadaran bahwa apa yang telah kita lakukan, pikirkan dan harapkan dari Tuhan lebih kecil dari apa yang dilakukan Tuhan kepada kita. Seperti pengalaman perempuan Samaria yang bertemu dengan Yesus di sebuah sumur itu, dia mengalami perjalanan spritual dan menemukan sebuah pengalaman baru yang lebih dalam bagaimana Yesus melewati pikirannya.

Soul check-up yang ketiga, menerima Tuhan dalam hidup kita. Sesudah itu kita bekerja melayani untuk menghasilkan buah. Tapi di tengah pekerjaan itu terkadang kita harus menunggu. Kita menunggu mengalami transformasi diri dan bagaimana hasil pekerjaan pelayanan kita, menunggu orang-orang yang dapat turut membantu pelayanan dan respon orang-orang yang dilayani, dan menunggu Tuhan memenuhi segalanya atas apa yang kita kerjakan dan harapkan seiring perjalanan spritual kita bersama-Nya.

Soul check yang keempat adalah rohani kita sehat ketika Roh Allah tetap berdiam di dalam diri kita sehingga kita dapat tekun dan gigih bersaksi, berdoa, melayani, bersekutu, menginjili, mengampuni dan sebagainya sebagai pekerjaan melakukan kehendak Allah Bapa. Jadi ini semua bukanlah sekedar pekerjaan kedagingan tapi pekerjaan rohani yang tubuh kita pun turut di dalamnya. Roh itu terus mengajak dan mendorong tubuh kita untuk melakukan kehendak Allah Bapa dengan setia. Jadi, jika dalam perjalanan rohani kita lemah, redup dan kendur maka perlu kita kembali datang kepada Allah Bapa agar rohani kita kembali disegarkan dan dikuatkan.

Soul check yang kelima adalah bagaimana kita seharusnya mau ikut Yesus. Poin yang diberikan Yesus sangat jelas yaitu: “menyangkal diri, pikul salib dan ikut Dia.” Boenhoeffer menyebut a cost of disciple bahwa kita untuk menjadi muird-Nya maka harus ada pengorbanan, komitment, kesetiaan dan menghasilkan buah. Kalau kita sudah menetapkan saya orang Kristen dan ikut Yesus maka poin kedua ini menjadi bagian dari dirinya. Seharusnya ini menjadi kewajiban setiap orang Kristen. Mengapa? Karena Dia telah terlebih dahulu telah menyelamatkan dan memberikan anugerah keselamatan itu. Roh Allah yang berdiam dalam diri kita pun akan secara otomatis melakukan poin kedua ini.
Ada beberapa ciri yang menandakan seseorang itu tidak bergairah lagi ikut Tuhan dan mengalami kekerdilan rohani. Seseorang dikatakan hidup dan sehat rohaninya ketika dia bergairah dan antusias mengikuti persekutuan dan secara personal pun dia mengalami pertumbuhan rohani. Dia sudah sadar bahwa membaca, mendengar, mendalami dan menginjili itu merupakan sebuah kebutuhan rohani dan pekerjaan Roh di dalam dirinya. Dia bergiat memerhatikan, merawat dan menjaga hidup persekutuan dan peribadahan. Mereka hidup saling memotivasi antara yang satu dengan yang lain. Sedangkan, hidup rohani seseorang disebut sakit atau mati ketika dia tidak bergairah, malas, menjauh dari persekutuan, tidak lagi mau mendengar dan melakukan firman Tuhan. Hidup beribadah dianggap hanya sebagai rutinitas. Kegiatan rohani menjadi beban yang mengganggu waktunya. Mereka tidak kreatif dan bersikap masa bodoh terhadap peribadahan dan persekutuan. Kegiatan kreatif dan keakraban jarang diadakan atau cenderung asal-asalan. Dia selalu bersikap cuek dan tidak mau peduli dengan anggota lainnya.

Kelima soul check-up di atas jika dilakukan dan ditemukan bagian yang tidak lagi berjalan semestinya maka bisa disebutkan bahwa kehidupan rohani kita sedang terganggu, mengalami spiritual yang kering atau bahkan sudah menyimpang, sederhananya apakah keadaan rohani kita sedang sakit atau sehat. Saran dari hasil soul check ini membuat kita sadar di mana kita, apa yang sudah saya lakukan, dan bagaimana seharusnya yang kita lakukan agar bisa sampai kepada tujuan. Sesudah itu, buatlah komitmen dan susunlah langkah-langkah yang akan dilakukan dan cobalah untuk melakukannya mulai dari yang terkecil terlebih dahulu. Rohani yang sehat maka dengan sendirinya, kita akan beroleh hikmat Tuhan yang sangat berguna dalam kehidupan kita. Dengan rohani yang sehat dan penuh hikmat Tuhan, kita dapat membangun hubungan dengan “yang lain”, yaitu sesama bahkan siapa saja. Di sisi lain, kita pun dapat menemukan siapa diri kita dan semakin orang mengenal dirinya maka dia pun akan mengenal tujuan hidupnya.

(Pdt. Rudi SM Pardede)

Cinta


Sekelompok profesional mengajukan pertanyaan ini kepada sekelompok anak-anak yang berusia 4-8 tahun, “Apa artinya cinta?” Jawaban yang mereka miliki lebih luas dan lebih dalam daripada yang dapat dibayangkan. Perhatikanlah, bagaimana menurutmu:

Ketika Nenek saya mendapat penyakit arthritis, dia tidak bisa membungkuk dan mengecat kuku kakinya lagi. Jadi kakek saya melakukan itu semua untuknya bahkan walaupun tangannya terkena arthritis, juga. Itulah Cinta”
Rebecca – 8 tahun

Ketika seseorang mencintai kamu, cara mereka menyebut namamu akan berbeda. Kamu akan tahu bahwa namamu aman di mulut mereka.”
Billy – 4 tahun

Cinta adalah ketika kamu pergi keluar untuk makan dan memberikan seseorang sebagian besar French Fries kamu tanpa mau meminta mereka untuk memberikan makanannya juga.”
Chrissy – 6 tahun

Cinta adalah apa yang membuatmu tersenyum walaupun kamu sedang lelah.”
Terri – 4 tahun

“Cinta adalah ketika ibu saya membuatkan kopi untuk papa dan dia menyicipnya sebelum memberikannya kepada papa, untuk memastikan bahwa rasanya OK.”
Danny – 7 tahun

Jika kamu ingin belajar mencintai yang lebih lagi, kamu harus memulainya dengan seorang teman yang kamu benci.”
Nikka – 6 tahun

“Cinta adalah ketika kamu memberitahu seorang pria bahwa kamu menyukai kemejanya, lalu dia memakainya setiap hari.”
Noelle – 7 tahun

Cinta itu seperti wanita tua dan seorang pria tua yang masih tetap berteman bahkan setelah mereka saling mengenal dengan baik.”
Tommy – 6 tahun

Selama resital piano, saya berada di atas panggung dan takut. Saya melihat semua orang menonton saya dan melihat ayah melambaikan tangan dan tersenyum. Dia adalah satu-satunya melakukan itu. Saya tidak takut lagi.
Cindy – 8 tahun

Ibu saya mencintai saya lebih dari siapa pun. Anda tidak melihat orang lain lagi yang akan mencium saya saat terlelap di malam hari
Clare – 6 tahun

Cinta adalah ketika ibu memberikan papa potongan ayam yang terbaik.”
Elaine- 5 tahun

Cinta adalah ketika Ibu melihat Ayah yang sedang bau dan berkeringat, dan masih mengatakan bahwa dia lebih tampan daripada Robert Redford.”
Chris – 7 tahun

Cinta adalah ketika seekor anak anjing menjilati wajahmu bahkan setelah kamu meninggalkannya sendirian sepanjang hari.”
Mary Ann – 4 tahun

Saya tahu kakakku mencintaiku karena dia memberikan semua pakaian lamanya dan pergi keluar untuk membeli yang baru.”
Lauren – 4 tahun

Ketika kamu mencintai seseorang, bulu matamu naik dan turun lalu bintang-bintang kecil keluar dari kamu
Karen – 7 tahun

Cinta adalah ketika Ibu melihat Ayah di toilet dan dia tidak menganggap itu kotor.”
Mark – 6 tahun

Kamu benar-benar tidak perlu mengucapkan “Aku cinta kamu” jika kamu tidak serius. Tetapi jika memang kamu bersungguh-sungguh, kamu harus sering mengucapkannya. Karena manusia dapat lupa
Jessica – 8 tahun

Dan yang terakhir – Penulis dan dosen Leo Buscaglia membicarakan tentang suatu kontes, dimana ia diminta untuk menilai (juri). Tujuan kontes ini adalah untuk menemukan anak yang paling paling memiliki kepedulian (ini akan meluluhkan hati Anda). Pemenangnya adalah seorang anak berusia empat tahun yang tetangga depannya adalah seorang pria tua yang baru saja kehilangan istrinya. Setelah melihat kakek itu menangis, anak kecil ini pergi ke halaman pria tua itu, naik ke pangkuannya, dan hanya duduk di sana. Ketika ibunya bertanya kepadanya apa yang ia katakan kepada sang kakek, anak kecil itu berkata, “tidak ada, aku hanya membantunya menangis.”

Si Kikir dan Si Gila


Seorang yang dikenal amat kikir, suatu hari sedang duduk di pintu kedainya sambil menikmati secangkir kopi. Seorang gila menghampirinya dan meminta sedikit uang untuk membeli yoghurt.

Pedagang kikir itu berusaha mengacuhkannya tetapi si gila tetap tak mau pergi dan malah membuat keramaian.
Orang-orang yang lewat dan melihat hal itu lalu menawarinya uang. Tapi si gila bersikeras bahwa ia hanya menginginkan uang dari si kikir.
Akhirnya, si kikir memberinya sedikit uang receh untuk membeli yoghurt. Si gila kemudian meminta tambahan uang untuk membeli roti yang akan dimakannya bersama yoghurt itu. Pedagang kikir itu tentu saja sudah tak boleh membiarkan hal ini, dan ia tegas-tegas menolaknya.

Malamnya, orang kikir itu bermimpi. Dalam mimpinya, ia telah berjalan di dalam surga. Tempatnya sangatlah indah, penuh dengan sungai, pepohonan, dan bunga-bungaan. Setelah beberapa saat berjalan di sana, ia merasa lapar. Ia keheranan, di tengah semua keindahan surga, ia tak melihat sedikit pun makanan.

Ketika itu, muncullah seorang pemuda bewajah tampan bercahaya.
Si kikir bertanya kepadanya, “Apakah ini benar-benar surga?” Pemuda itu mengiyakan. “Lalu, di mana gerangan segala makanan dan hidangan surga yang telah sering aku dengar itu?” tanya orang kikir itu lagi.

Pemuda tampan itu permisi sebentar. Tak lama kemudian ia kembali dengan membawa semangkuk yoghurt. Pedagang kikir lalu meminta roti untuk dimakan bersama yoghurt tapi pemuda itu menjawab, “Yang engkau kirimkan kemari hanyalah yoghurt ini saja.

Seandainya engkau mengirimkan roti, tentu sekarang aku dapat menyuguhkanmu roti juga. Yang engkau tuai di sini adalah apa yang engkau tanam sewaktu di dunia.”

Si kikir terbangun dari mimpinya. Peluh membasahi seluruh tubuhnya. Sejak saat itu ia menjadi salah seorang yang paling pemurah di kotanya. Diberikannya makanan kepada setiap pengemis dan orang miskin yang dijumpainya.

Nasi Kotak


Hari ini saya mendengar sebuah kisah mengharukan dari seorang teman. Ada seorang nenek setiap hari membuat nasi kotak kasih. Satu kotak nasi seharga enam ribu rupiah, dalam nasi kotak tersebut berisi daging dan empat jenis sayuran, keseluruhan nasi kotak ini terlihat mewah.

Teman saya bertanya kepada nenek itu, “Mengapa Anda jual nasi kotak itu begitu murah?”

Nenek itu berkata, sekarang situasi ekonomi sedang lesu, sangat sulit mencari uang. Banyak anak kecil tidak memiliki uang jajan untuk membeli makanan, ataupun membayar uang sekolah. Sedangkan orang dewasa sangat sulit mendapatkan pekerjaan, walaupun sudah mendapatkan pekerjaan gajinya juga sangat minim.

Oleh karenanya Nenek sangat berharap bisa membuat kelompok pekerja menghabiskan uang yang paling minim, bisa menikmati nasi kotak yang bergizi. Dia juga sangat berharap orang lain bisa meniru tindakannya, agar lebih banyak orang lagi yang bisa memberikan perhatian kepada kaum buruh dan pekerja tingkat menengah bawah.
“Lantas, berapakah modal Nenek untuk membuat satu kotak nasi? Jika uangnya tidak mencukupi siapa yang mendukung Nenek?” tanya teman saya.

Nenek itu berkata, “Sekarang ini harga barang terus naik, modal untuk membuat satu kotak nasi sebesar sepuluh ribu rupiah, berapa uang yang Nenek miliki maka sebanyak itu nasi kotak yang akan Nenek buat. Jika uang hasil penjualan tidak mencukupi, maka dia akan mengambil uang bulanan dari anaknya untuk menutupi kekurangan itu.
Akhirnya teman saya itu bertanya lagi, “Apakah keluarga Nenek mendukung kebaikan ini?”

Nenek itu mengatakan, putranya pernah menasehatinya untuk menikmati hari tua, tanpa perlu bersusah payah setiap hari membuat nasi kotak. Sibuk bekerja dari siang hingga malam. Tetapi putranya melihat nenek melakukan hal ini dengan riang gembira, akhirnya dia mendukung keinginan Nenek.

Nenek itu menambahkan, perbuatan baik bisa dan boleh dilakukan setiap orang. Asalkan semua orang bersedia mengorbankan sedikit rasa kasih, maka masyarakat ini semakin lama makin mempunyai harapan.

Seorang Ibu negara AS pernah mengatakan, “Ada orang yang memberikan waktu, ada orang yang menyumbangkan uang, ada yang menyediakan teknik dan relasi mereka, ada pula yang benar-benar mengorbankan jiwa dan raganya. Dapat dikatakan setiap orang memiliki sesuatu yang bisa didermakan. Jiwa dan kasih kesemuanya ini disulut dan membara dari lubuk hati kebaikan.”

Ketika kita hidup di tengah-tengah masyarakat, mungkin bisa merasakan realitas masyarakat, lingkungan yang dingin tidak ada kepedulian. Juga mungkin sekarang ini kita tidak bisa mengubah apapun, juga tidak bisa menuntut orang lain untuk meniru kita. Tetapi kita bisa mengubah diri kita sendiri.

Jika semua orang bisa berpikir pada sudut kebaikan, bisa lebih dulu memikirkan orang lain sebelum melakukan sesuatu, maka dunia ini akan lebih indah, sumber dari kebaikan ini akan terus mengalir selamanya. (Wen Qi/The Epoch Times)

“Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” (Galatia 6:10)