Arsip Kategori: Lain-lain

Batu dan Bisikan


Suatu ketika, tersebutlah seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli mobil mewah, sebuah Jaguar yang mengkilap. Kini, sang pengusaha, sedang menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar.

Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil melempar sesuatu. Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya anak-anak itu. Tiba-tiba, dia melihat sesuatu yang melintas dari arah mobil-mobil yang di parkir di jalan. Tapi, bukan anak-anak itu yang tampak melintas. Aah…, ternyata, ada sebuah batu yang menimpa Jaguar itu. Sisi pintu mobil itupun koyak, tergores batu yang dilontarkan seseorang. Cittt….ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram, di mundurkannya mobil itu menuju tempat arah batu itu di lemparkan. Jaguar yang tergores, bukanlah perkara sepele. Apalagi, kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain, begitu pikir sang pengusaha dalam hati. Amarahnya memuncak. Dia pun keluar mobil dengan tergesa-gesa. Di tariknya seorang anak yang paling dekat, dan di pojokkannya anak itu pada sebuah mobil yang diparkir. “Apa yang telah kau lakukan!!! Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku!!” Lihat goresan itu”, teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu. “Kamu tentu paham, mobil baru semacam itu akan butuh banyak ongkos di bengkel kalau sampai tergores.” Ujarnya lagi dengan geram, tampak ingin memukul anak itu.
Sang anak tampak ketakutan, dan berusaha meminta maaf. “Maaf Pak, Maaf. Saya benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa.” Air mukanya tampak ngeri, dan tangannya bermohon ampun. “Maaf Pak, aku melemparkan batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti….” Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi. “Itu disana ada kakakku. Dia tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Aku tak kuat mengangkatnya, dia terlalu berat. Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang kesakitan..” Kini, ia mulai terisak. Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada wajah yang mulai tercenung itu. “Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi roda? Tolonglah, kakakku terluka, tapi dia terlalu berat untukku.”
Tak mampu berkata-kata lagi, pengusaha muda itu terdiam. Kerongkongannya tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah. Segera, di angkatnya anak yang cacat itu menuju kursi rodanya. Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk mengusap luka di lutut anak itu. Memar dan tergores, sama seperti sisi pintu jaguar kesayangannya.
Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih, dan mengatakan bahwa mereka akan baik-baik saja. “Terima kasih, dan semoga Tuhan akan membalas perbuatanmu.” Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang masih nanar menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.
Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju Jaguar miliknya. Disusurinya jalan itu dengan lambat, sambil merenungkan kejadian yang baru saja di lewatinya. Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele. Namun, ia memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini. Ia menginginkan agar pesan itu tetap nyata terlihat
“Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat, karena, seseorang akan melemparkan batu untuk menarik perhatianmu.”
Teman, sama halnya dengan kendaraan, hidup kita akan selalu berputar, dan dipacu untuk tetap berjalan. Di setiap sisinya, hidup itu juga akan melintasi berbagai macam hal dan kenyataan. Namun, adakah kita memacu hidup kita dengan cepat, sehingga tak pernah ada masa buat kita untuk menyelaraskannya untuk melihat sekitar?

Tuhan, akan selalu berbisik dalam jiwa, dan berkata lewat kalbu kita. Kadang, kita memang tak punya waktu untuk mendengar, menyimak, dan menyadari setiap ujaran-Nya. Kita kadang memang terlalu sibuk dengan bermacam urusan, memacu hidup dengan penuh nafsu, hingga terlupa pada banyak hal yang melintas.
Teman, kadang memang, ada yang akan “melemparkan batu” buat kita agar kita mau dan bisa berhenti sejenak. Semuanya terserah pada kita. Mendengar bisikan-bisikan dan kata-kata-Nya, atau menunggu ada yang melemparkan batu-batu itu buat kita.

CERMIN YANG TERLUPAKAN


Pada suatu ketika, sepasang suami istri, katakanlah nama mereka Smith, mengadakan ‘garage sale’ untuk menjual barang-barang bekas yang tidak mereka butuhkan lagi. Suami istri ini sudah setengah baya, dan anak-anak mereka telah meninggalkan rumah untuk hidup mandiri.

Sekarang waktunya untuk membenahi rumah, dan menjual barang-barang yang tidak dibutuhkan lagi. Saat mengumpulkan barang-barang yang akan dijual, mereka menemukan benda-benda yang sudah sedemikian lama tersimpan di gudang. Salah satu di antaranya adalah sebuah cermin yang mereka dapatkan sebagai hadiah pernikahan mereka, dua puluh tahun yang lampau.

Sejak pertama kali diperoleh, cermin itu sama sekali tidak pernah digunakan. Bingkainya yang berwarna biru aqua membuat cermin itu tampak buruk, dan tidak cocok untuk diletakkan di ruangan mana pun di rumah mereka. Namun karena tidak ingin menyakiti orang yang menghadiahkannya, cermin itu tidak mereka kembalikan.

Demikianlah, cermin itu tersimpan di loteng. Setelah 20 tahun berlalu, mereka berpikir orang yang memberikannya tentu sudah lupa dengan cermin itu. Maka mereka mengeluarkannya dari gudang, dan meletakkannya bersama dengan barang lain untuk dijual keesokan hari.

Garage sale mereka ternyata mendapat banyak peminat. Halaman rumah mereka penuh oleh orang-orang yang datang untuk melihat barang bekas yang mereka jual. Satu per satu barang bekas itu mulai terjual. Perabot rumah tangga, buku-buku, pakaian, alat berkebun, mainan anak-anak, bahkan radio tua yang sudah tidak berfungsi pun masih ada yang membeli.

Seorang lelaki menghampiri Mrs. Smith. “Berapa harga cermin itu?” katanya sambil menunjuk cermin tak terpakai tadi. Mrs. Smith tercengang. “Wah, saya sendiri tidak berharap akan menjual cermin itu. Apakah Anda sungguh ingin membelinya?” katanya.
“Ya, tentu saja. Kondisinya masih sangat bagus.” jawab pria itu. Mrs. Smith tidak tahu berapa harga yang pantas untuk cermin jelek itu. Meskipun sangat mulus, namun baginya cermin itu tetaplah jelek dan tidak berharga.

Setelah berpikir sejenak, Mrs. Smith berkata, “Hmm … anda bisa membeli cermin itu untuk satu dolar.” Dengan wajah berseri-seri, pria tadi mengeluarkan dompetnya, menarik selembar uang satu dolar dan memberikannya kepada Mrs. Smith.

“Terima kasih,” kata Mrs. Smith, “Sekarang cermin itu jadi milik Anda. Apakah perlu dibungkus?” “Oh, jika boleh, saya ingin memeriksanya sebelum saya bawa pulang.” jawab si pembeli..

Mrs. Smith memberikan ijinnya, dan pria itu bergegas mengambil cerminnya dan meletakkannya di atas meja di depan Mrs. Smith. Dia mulai mengupas pinggiran bingkai cermin itu. Dengan satu tarikan dia melepaskan lapisan pelindungnya dan muncullah warna keemasan dari baliknya.

Bingkai cermin itu ternyata bercat emas yang sangat indah, dan warna biru aqua yang selama ini menutupinya hanyalah warna dari lapisan pelindung bingkai itu!

“Ya, tepat seperti yang saya duga! Terima kasih!” sorak pria itu dengan gembira. Mrs. Smith tidak bisa berkata-kata menyaksikan cermin indah itu dibawa pergi oleh pemilik barunya, untuk mendapatkan tempat yang lebih pantas daripada loteng rumah yang sempit dan berdebu.

Kisah ini menggambarkan bagaimana kita melihat hidup kita. Terkadang kita merasa hidup kita membosankan, tidak seindah yang kita inginkan. Kita melihat hidup kita berupa rangkaian rutinitas yang harus kita jalani. Bangun pagi, pergi bekerja, pulang sore, tidur, bangun pagi, pergi bekerja, pulang sore, tidur. Itu saja yang kita jalani setiap hari.

Sama halnya dengan Mr. dan Mrs. Smith yang hanya melihat plastik pelapis dari bingkai cermin mereka, sehingga mereka merasa cermin itu jelek dan tidak cocok digantung di dinding. Padahal dibalik lapisan itu, ada warna emas yang indah.

Padahal di balik rutinitas hidup kita, ada banyak hal yang dapat memperkaya hidup kita.

Setiap saat yang kita lewati, hanya bisa kita alami satu kali seumur hidup kita. Setiap detik yang kita jalani, hanya berlaku satu kali dalam hidup kita. Setiap detik adalah pemberian baru dari Tuhan untuk kita.

Akankah kita menyia-nyiakannya dengan terpaku pada rutinitas? Akankah kita membiarkan waktu berlalu dengan merasa hidup kita tidak seperti yang kita inginkan?

Setelah 20 tahun, dan setelah terlambat, barulah Mrs. Smith menyadari nilai sesungguhnya dari cermin tersebut. Inginkah kita menyadari keindahan hidup kita setelah segalanya terlambat? Tentu tidak. Sebab itu, marilah kita mulai mengikis pandangan kita bahwa hidup hanyalah rutinitas belaka. Mari kita mulai mengelupas rutinitas tersebut dan menemukan nilai sesungguhnya dari hidup kita.

Sebuah Ilustrasi Kehidupan


Aku adalah sebuah ranting. Aku tidak tahu ranting apakah aku ini. Aku begitu kurus dan lemah. Seluruh tubuhku penuh penyakit. Aku tidak dirawat, aku dibiarkan bertumbuh liar. Sinar matahari yang terik membuatku kepanasan, aku haus tapi tidak menemukan air. Sebentar lagi aku pasti mati. Adakah orang yang mau menolongku?

Hari demi hari terus berlalu. Ranting ini keadaannya semakin buruk. Ia ingin menyerah dalam hidupnya. Namun tiba-tiba ada seorang penolong yang memindahkannya pada sebuah pokok. Ranting ini berpikir pastilah orang tersebut memotongnya dan membuangnya ke dalam api.

Tapi lihatlah, ternyata aku dicangkokkan pada sebuah pokok. Kelihatannya pokok ini sehat dan kuat. Tapi apakah aku bisa hidup dalam keadaan sekarat? Awalnya aku tidak mengerti, tapi aku percaya pada penolong ini.

Satu bulan berlalu… Keadaan ranting ini mulai menunjukkan hasilnya. Tubuhnya lebih bersih dan sehat. Rantingpun berterima kasih pada penolong itu.

Sekarang aku telah sehat, dedaunan banyak tumbuh di tubuhku. Aku bangga sekali melihat diriku. Setiap hari aku diberi pupuk, disirami air. Aku benar-benar sehat berada pada pokok ini.

Tapi, mengapa penolong itu membuang daun-daunku? Bukankah mereka itu indah dan segar? Aku tidak mengerti.

Eh… lihatlah tetanggaku, mereka menghasilkan sesuatu. Bukankah itu yang namanya buah? Alangkah cantiknya buah-buah itu. Bagaimana rasa buah itu yah? Mengapa aku tidak seperti mereka? Tubuhku hanya dedaunan saja dan belum berbuah. Apa yang salah yah? Coba aku tanyakan pada tetanggaku.

“Hai sobat, engkau kelihatan indah sekali. Tubuhmu segar dan sehat, dan engkau telah berbuah. Apa sih rahasianya?”

“Sobatku, bersabarlah! Akan ada masanya engkau pun berbuah seperti diriku. Aku bisa berbuah bukanlah karena kemampuanku sendiri, tapi karena aku bergantung pada pokok ini dan penolong itu. Merekalah yang telah membuatku berbuah-buah. Sebelum aku berbuah, berkali-kali dedaunanku dipotong. Awalnya aku tidak mengerti. Namun sekarang lihatlah hasilnya. Luar biasa bukan?

Percayalah pada penolong itu. Ia akan terus merawatmu dan mengusahakan agar engkau berbuah, asal engkau tetap tinggal pada pokok ini. Biarkanlah ia membersihkan dirimu dalam masanya, sehingga engkaupun akan berbuah sesuai waktunya.

Oya, satu hal lagi. Janganlah engkau seperti yang lainnya, mereka tidak menghasilkan buahnya pada waktunya dan akhirnya mereka harus ditebang dan dibuang ke dalam api.

Dan yang perlu kau ingat, hasil buahmu bukanlah untuk dirimu sendiri, tetapi harus bisa dinikmati olah orang lain. Merekalah yang dapat merasakan apakah buahmu manis atau asam, baik atau buruk. Dan janganlah engkau membanggakan dirimu sendiri, tapi ingatlah bahwa pokok dan penolong itulah yang telah banyak membuatmu berbuah.”

“Terima kasih sobatku, engkau telah membuatku mengerti. Sekarang aku tidak perlu kuatir lagi untuk dibersihkan. Aku mau tetap tinggal pada pokok ini dan terus menghasilkan buah pada musimnya.”

Amin (Yohanes 15).

Semua Butuh Proses


Dalam satu tandan pisang, tak semua buahnya matang secara serentak. Ada diantaranya yang masih berwarna hijau tua. Maka, sang petani ada kalanya harus menyimpannya kembali beberapa saat menunggu hingga matang semuanya.

Pisang yang telah matang dan pisang yang terlambat matang, kelak akan memiliki rasa yang sama yakni memiliki rasa pisang. Meskipun waktu untuk menjadi matang pada pisang berbeda-beda…

Begitulah kita..tak mungkin semuanya sama. Ada kalanya menurut ukuran kita, suatu masalah dapat diselesaikan hanya dengan beberapa menit saja. Tapi bagi orang lain belum tentu, ia butuh waktu untuk menyelesaikannya. Bahkan belum sampai pada kesempurnaan. Namun pada akhirnya, hasil yang didapatkan tetap dapat dirasakan.

Dalam hidup ini tak seorang pun sempurna pada bingkai kemampuannya. Karena di antara kita memang tidak sama dan serupa, kita dilahirkan berbeda, hidup di lingkungan berbeda, pada kondisi yang berbeda dan segala hal yang berbeda. Yang mesti diingat adalah bahwa setiap orang memiliki kesamaan keinginan dan memiliki hak yang sama dalam mendapat kesempatan, betapapun itu harus dipergilirkan. Karenanya, percuma saja memperdebatkan suatu ketidaksamaan, perbedaan, dan ketidakcocokan dengan orang lain, karena kita tak akan mendapat titik temu.

Sungguh tak ada yang sempurna di antara kita, maka janganlah rendah diri…semua butuh proses menjadi lebih baik…..

PARTORDING NI ACARA BONA TAON 2018 – IBADAH ARISAN (Bahasa Batak)


01. Pangaradeon …….. hohom (Martangiang dibagasan roha)

02. Joujou tu Parsaoran dohot Debata
U : Punguan na marlas ni roha dibagasan goar ni Tuhan Jesus Kristus, nunga masuk hita tu taon na imbaru na binasabasahon ni Debata tu hita. Tahilala do denggan basa dohot panogunoguon ni Tuhanta manipat ari dohot bulan, boi hita tolhas sahat tu sadarion. Antong, SELAMAT TAON BARU MA DI HITA SALUHUTNA!
H : SELAMAT TAON BARU!
U : Ala ni i, marlas ni roha ma hita jala mandok mauliate tu Debatanta na mangalehon ari na denggan tu hita, boi hita marpungu di acara Bona Taon ni punguan na tahaholongi on.
H : Mauliate ma ale Tuhan, disude denggan basa na nilehonMu tu hami, ala ni i, hupuji hami ma goarMu na badia i.
U : Songon tanda las ni rohanta, taparade ma pujipujian tu Ibana, marende ma hita.

03. Marende BE. No. 361 : 1 – 2 ”Na denggan situtu” BL. 157
1. Na denggan situtu do, mamuji Debata / Jahowa na tumimbo, na sai tongtong basa, / denggan do paboahon manogot asiMi, / bodari mangendehon burjuM nang sintongMi
2. Mardongan sipilliton na denggan situtu, / naeng ma tongtong pujion ni nasa na burju. / Ho, Tuhan Debatangku, ai las ni rohangki / do na tongtong binaenMu dipambahenanMi.

04. Votum~Introitus~Tangiang
Molo partohonan na manguluhon:
U : Marhitehite goar ni Debata Ama, dohot goar ni AnakNa Tuhan Jesus Kristus, dohot goar ni Tondi Porbadia, na tumompa langit dohot tano on.
H : Amen
Molo na so partohonan na manguluhon:
U : Tapungka ma Acara Bona Taon ni punguanta on, dibagasan haporseaon na togu di Debata na manompa hita.
H : Amen
Diuduti ma muse dohot na di toru on:
U : On ma pos ni rohangku, Kristus do naung umpungka ulaon na denggan dibagasan hamu, jala patuluson ni i do i, sahat ro di ari ni Kristus Jesus.
H : Debata do na mamuhai, jala Debata do na paujunghonsa, mauliate ma di Debata.
U : Jahowa do panondangi di ahu dohot hatuaonku, tung ise ma habiaranku?
H : Nang pe marhoronhoron parangan anngka na manungkun ahu, ndang dihabiari rohangku.
U : Sada do naung hupangidohon tu Jahowa saleleng mangolu ahu paidaidaonku hinadenggan ni Jahowa dohot manghalomohonsa.
H : Tahaposi ma Jahowa, tapagomos jala tapatogu rohanta jala taparhanalom Jahowa. Haleluya!
U : Martangiang ma hita! Ale Amanami jala Debatanami! Na mandok mauliate do hami tu Ho sian nasa rohanami, ala dilehon Ho do ari na denggan di hami, marhite i, boi hami marpungu di inganan on di bagasan acara Bona Taon di taon 2018 on. Na mangido do hami nuaeng diadopanMu, sai lam pahot ma haporseaonnami, asa lam togu panghirimonnami, patuduhon holong ni rohaM dohot asi ni rohaM, tarlumobi di na laho mandalani saluhut ari nami di taon 2018 on na so huboto hami dope haujunganna. Sai dongani ma hami, asa lam marpos ni roha hami di Hata ni AnakMu, Tuhan Jesus Kristus Tuhannami. Amen.

05. Marende BE. No. 690 : 1 – 2 “Hibul Rohangku”
1. Hibul rohangku tu Tuhan Jesus, sude ngolungku di Tuhan Jesus. Ihuthononku do Tuhan Jesus, ndang olo au sumurut be.
2. Beta ihuthon ma Tuhan Jesus, ho na dijou do roham patulus. Beta ihuthon ma Tuhan Jesus, sai unang ho sumurut be.

06. 2017 Na Gabe Sejarah
U : Dongan sahaporseaon, molo tarimangi pardalanan ni ngolunta dibagasan taon 2017 naung salpu, godang do na masa ditongatonga ni punguanta suang songon i nang ditongatonga ni parngoluonta siganupari.
H : Sai parroha i ma hami mamilangi angka ariarinami, asa dapotan roha na bisuk hami.
U : Gabe sejarah ma taon 2017 naung salpu. Dipardalanan ni punguanta, tung mansai godang do na mambahen hita masuk tu las ni roha na sian Debata, alai ndada holan i, masa do nang arsak ni roha, godang do tantangan na ingkon taadopi dipardalanan ni ngolunta, na laho paingothon hita ”Debata do nampuna ngolunta” ala ni i, lam tapasolhot ma tu Ibana.
H : Ale Tuhan, guru di Ho do saluhutna, sai togu jala parrohai ma hami asa unang mabiar rohanami marnida saluhut angka na masa i. Sai togu jala dongani ma hami dipardalanan ni ngolunami. Asa lam pos rohanami tu Ho marhitehite haporseaonnami tu AnakMu, Tuhan Jesus Kristus Tuhannami.
U : Gabe sejarah ma taon 2017 naung salpu. Dipardalanan ni punguanta, tung mansai godang do na mambahen hita masuk tu las ni roha na sian Debata, alai ndada holan i, alai masa do nang parsahiton, ditongatonga ni ngolunta nang parianakhon. Saluhutna i laho paingothon hita do ”Ibana do mandongani hita”, ala ni i, lam tapasolhot ma tu Ibana.
H : Ale Tuhan, guru di Ho do saluhutna, sai paingot hami asa marpangunsandean tu Ho hami, ndada tu pingkirannami sandiri. Asa lam pos rohanami tu Ho marhitehite haporseaonnami tu AnakMu Tuhan Jesus Kristus Tuhannami.
U : Gabe sejarah ma taon 2017 naung salpu. Dipardalanan ni punguanta, tung mansai godang do na mambahen hita masuk tu las ni roha na sian Debata, alai ndada holan i, masa do nang arsak ni roha, ditongatonga ni ngolunta nang parianakhon. Sipata sugkunsungkun rohanami taringot tu pardalanan ni masa depan ni saluhut ianakhonta, tarlumobi laho mangadopi parngoluon na mansai maol di tano parserahan on.
H : Ale Tuhan, guru di Ho do saluhutna, sai paingot hami asa unang dirinami sandiri na hupingkiri hami, alai asa lam margogo hami laho patupahon na ringkot tu di tongatonga ni keluarga nang pasahathon poda dohot hata hangoluan tu ianakhonnami. Asa lam pos rohanami tu Ho marhitehite haporseaonnami tu AnakMu Tuhan Jesus Kristus Tuhannami. Amen.

07. Marende BE. No. 707 : 1 “Hagogoon dohot apulapul”
1. Hagogoon dohot apulapul do dilehon Tuhan i tu au. / Ganup ari au ditogutogu, ganup tingki di ondingi au. / Ai hombar tu lomo ni rohaNa do dilehon Tuhan i tu au. / Ro marsorin arsak las ni roha, haporseaonku di patau.
2. Ganup tingki Tuhan raphon ahu jala sai dipasupasu au. / Sai ditogu au molo madabu, talu musu jala monang au. / Ai pargogo na so hatudosan, Debatangku salelengna i. / Mangalehon dame dohot tua, tu angka na bojok roha i.

08. Panghirimon di taon 2018
U : Debata do na mamuhai ulaon na denggan ditongatonganta, ndang paloasonNa hita tartuktuk. Molo dilehon Debata dope sada taon na imbaru tu hita, i ma taon 2018 on, lam tapareahi ma na denggan, songon i nang hasadaon ni roha, asa lam margogo hita dibagasan hasadaon laho mandalani gulmit ni ngolunta na so binoto dope di taon 2018 on.
H : On do na hupangido hami, naeng ma lam sumurung holong ni rohanta, marurat diparbinotoan, dohot di nasa panimbangion partondion laho manangkasi na rumingkot, asa polin hami, tanpar sian partuktuhan. Asa ramos marparbuehon hatigoran bahen hasangapon jala pujipuji di Debata.
U : Debata do na mamuhai ulaon na denggan ditongatonganta, ndang paloasonNa hita tartuktuk. Molo nunga salpu taon 2017 sian ngolunta, ndang tagamon be boi hita mulak, molo boi tasalpuhon saluhut hahurangan nang hasalaan ni donganta, ndang tagamon be hita tarurak, molo boi tatinggalhon saluhut hahurangan ni dirinta, ndang tagamon be ro mara. Ala ni i, lam tu hembangna ma panghobasion di tongatonga ni punguanta, lam tu raratna ma ulaon parasinirohaon. Asa taon na gok las ni roha ma taon on ditongatonganta.
H : Tangkas do huboto hami marhitehite haporseaonnami tu Debata, na dipaimbaru Debata do saluhutna, ai didok do: Ida ma, saluhutna do hupaimbaru! I ma tutu, asa salpu ma na leleng i, soluk ma haimbaruon i dibagasan ngolu nang parsaorannami.
U : Antong, sangap ma di Debata na marmulia!
H : Amen

09. Marende BE. No. 309 : 1, 3 “Raphon Tuhan Jesus i”
1. Raphon Tuhan Jesus i pungka ulaonmu. / Ingkon tu Ibana i parguruhononmu. / Baen Ibana donganmi, hehe dohot modom. / Dege ma bogasNa i, rohami pahohom.
3. Molo Jesus donganmi, ndang tarbaen ho mago. / Nang bisuk sibolis i, Jesus do gumogo. / Asal dihaposi ho Jesus i Tuhanmu, / ingkon sai maporus do na niarsakhonmu.

10. Sijahaon: Epesus 4 : 22 – 24
U : Hata ni Debata, turpuk patujolo ni Jamita dihita, i ma na tarsurat di Epesus 4 : 22 – 24, songon on ma didok disi, jala marsorinsorin ma hita manjahasa: ”Tanggali hamu ma jolma na buruk i, isara dipangalaho na jolo, ai laho mago do i hinorhon ni angka hisaphisap sipaotooto.
H : Alai dipaimbaru hamu ma dirimuna dibagasan tondi ni rohamuna.
U : Jala solukhon hamu ma jolma na imbaru, na tinompa suman tu Debata, dibagasan hatigoran dohot hapolinon na marhasintongan. I do sahat na. Martua do halak na tumangihon hata ni Debata, jala na umpeopsa.
S : Amen

11. Tangiang Pangondianon

12. Marende BE. No. 69 : 1, 3 “Ungkap Bahal na ummuli”
1. Jesus sai urupi hami dohot di taon baru on. / Paimbaru gogonami mangihuthon Ho tongtong. / Pasupapsu ma muse na porsea sasude.
3. Taon parasinirohaon baen di au sandok taon on. / Lam pahot ma hasesaan ni dosangku di au on. / Holan Ho do Jesuski, tuk pasaehon dosangki.

13. Jamita manang Renungan

14. Marende BE. No. 706 : 1 – “Godang ni pasupasu i”
Huhut Papungu Pelean
1. Godang ni pasupasu i dilehon Tuhanhi, / tarlobi asiasiMi marhite AnakMi.
Reff. Jalo ma pujianhi, Jesus sipalua i. / Boi au bongot tu surgo i, marnida hasangaponMi.
2. Tondong nang aleale i palashon rohangki. / Alai na umuli i boi au anakMi.
Reff. Jalo ma pujianhi, Jesus sipalua i. / Boi au bongot tu surgo i, marnida hasangaponMi.
3. Ndang dung mansohot basaMi saleleng ngolungki. / Ho ma tongtong pujionhi, sangap di goarMi.
Reff. Jalo ma pujianhi, Jesus sipalua i. / Boi au bongot tu surgo i, marnida hasangaponMi.

15. Panutup
U : Antong, tapaujung ma partangianganta on, martangiang ma hita!
Ale Tuhan Debata, Amanami na di banua ginjang, mauliate rohanami ala dilehon Ho do tu hami bohal ni hangoluannami. Saluhut basabasa naung hujalo hami, hulehon hami gabe pelean tu adopanMu. Pasupasu ma i, asa gabe pelean halomoan diadopanMu, patuduhon ulaon parasinirohaon ditongatonga ni punguan naung pinadomuM dibagasan AnakMu, Tuhan Jesus Kristus, Tuhannami. Amen.
Antong, rap mangido ma hita di Tangiang Ale Amanami.
H : Ale Amanami na di Banua Ginjang ……. d.u. Amen.
Molo partohonan na manguluhon didok ma pasupasu

Semuanya berdosa


Dahulu ada seorang miskin yang karena tidak tahan lapar ia mencuri sepotong kue. Tetapi malang baginya, ia tertangkap dan dimasukan ke dalam penjara. Ia beberapa kali berusaha untuk melarikan diri tetapi selalu mengalami kegagalan. Kemudian ia mendapat akal.

Pada suatu hari ia berkata kepada kepala penjara, pak saya mempunyai sebuah benda berharga yang akan saya persembahkan kepada raja. Pada mulanya kepala penjara tidak menghiraukan perkataannya, tetapi setelah dijanjikan sejumlah uang dari hasil hadiah raja, barulah kepala penjara tersebut membawanya menghadap raja.
Dihadapan raja, ia mempersembahkan sebiji kacang dengan mengatakan, paduka raja, biji kacang ini sangat ajaib. Jika biji kacang ini ditanam akan menghasilkan kacang mas. Setelah raja mendengar perkataan ini, raja menjadi heran dan kurang percaya, lalu berkata jika ini menghasilkan kacang mas mengapa engkau sendiri tidak mau menanamnya? Dengan suara rendah si miskin ini menjawab, ampun tuanku, hamba tidak layak untuk menanam biji kacang ini. Karena hanya orang yang tidak pernah melakukan kesalahan yang layak menanam dan menghasilkan kacang mas.

Setelah mendengar jawaban ini, raja berpikir, aku tidak layak menanam kacang ini, karena waktu kecil aku pernah berbohong dan mencuri. sebab itu raja menolak untuk menanamnya.

Mata si miskin beralih dari raja ke perdana menteri, jika paduka raja menolak, bagaimana jika yang mulia perdana menteri saja yang menanamnya?, dengan gugup perdana menteri menolaknya, Karena ia menyadari bahwa dirinya tidak luput dari kesalahan. Ia sering menerima uang pelicin.

Tibalah panglima perang untuk menerima tawaran itu, tetapi dengan tidak kalah gugup, ia menolak. Karena ia tahu dalam medan perang, ia sering merampas jasa orang lain untuk diri sendiri.

Akhirnya tidak ada satupun pejabat tinggi istana yang berani menerima tugas tersebut. Karena masing masing mengetahui bahwa dalam tugas sebagai abdi kerajaan sering mengkomersialkan jabatan.

Dengan tertawa, si miskin mengatakan, kalian yang melakukan kesalahan lebih besar dan banyak, menikmati hidup senang, sedangkan aku mencuri karena tidak tahan lapar dimasukan dalam penjara. Perkataan ini menyadarkan raja dan pejabat lainnya. Akhirnya mereka melepaskan si miskin ini.

Karena semua orang telah berbuat dosa, dan telah kehilangan kemuliaan Allah. (Roma 3:23)