LAKUKANLAH KEADILAN DAN KEBENARAN


(Yeremia 22: 1 – 9)

Selamat hari minggu bagi kita semua!

Saudara/i yang terkasih. Setelah kita baca teks khotbah minggu ini, kita diingatkan bahwa hukuman merupakan salah satu bentuk cinta kasih Allah kepada umat pilihan-Nya. Penghukuman Tuhan sebenarnya bermaksud baik, yaitu menjadi sebagai jalan yang akan membawa pada kesadaran akan dosa dan membimbing pada pertobatan. Tetapi hukuman yang Allah jatuhkan kepada Yehuda pada zaman Yoyakim justru bertujuan membalaskan dengan adil segala kejahatannya. Kejatuhan Yehuda adalah bentuk penghukuman Tuhan dan ini dinilai sebagai akibat dosa para pemimpin, khususnya tiga raja terakhir sebelum Zedekia, yaitu Salum (Yoahas), Yoyakim, dan Konya (Yoyakhin).

Keadilan dan kebenaran yang merupakan kehendak Tuhan telah diinjak-injak. Para penguasa melakukan pemerasan, merampas hak orang miskin, menindas orang asing, anak yatim, dan janda. Bahkan pengadilan menghukum dan membinasakan orang yang tidak bersalah. Para pemimpin juga hanya mengejar keuntungan dan melupakan tanggung jawab terhadap rakyat yang dipimpinnya. Akibatnya rakyat tertindas dan sengsara. Semua ini jahat dalam pertimbangan Tuhan, karenanya Ia akan menyerahkan umat-Nya kepada para musuh mereka. Bangsa itu, khususnya para pemimpin mereka, akan hidup menderita dan terbuang dari Tanah Perjanjian. Hukuman yang tak dapat dihindari, kecuali dengan pertobatan para pemimpin dan seluruh umat. Keadilan dan kebenaran harus ditegakkan, penindasan dihapus. Bukan hanya pelanggaran moral dan spiritual membuat Allah murka, pelanggaran sosial pun menyakiti hati Allah.

Dewasa ini negara kita dilanda oleh berbagai bencana. Bukan tidak mungkin bahwa bencana alam itu berhubungan dengan bencana-bencana sosial-politik, ulah para petinggi yang jahat. Tuhan menghendaki keadilan dan kebenaran dalam hidup umat-Nya. Mengenal Dia berarti melakukan keadilan dan kebenaran dalam hidup sesehari. Pesan ini berupa kritik sosial yang sangat keras dari Yeremia, sampai-sampai istilah yang dipakai: pemeras, penindas dan menumpahkan darah. Itulah perilaku, sikap dan tindakan dari pihak istana kepada rakyat. Itu semua istilah yang menggambarkan kekerasan dan ketidakadilan. Situasi yang sudah pada titik rawan, bahwa penghuni istana bukan lagi pelindung masyarakat, tetapi pelaku-pelaku kekerasan, penindasan dan pemerasan. Situasi ini harus dihentikan, dan raja harus melakukan reformasi dengan segera dengan melakukan keadilan, kebenaran, menghentikan pemerasan. Juga membela hak yatim, janda dan orang kecil. Hanya itu satu-satunya jalan keluar dari situasi ini; jika tidak, istana di Yerusalem akan menjadi reruntuhan dan tinggal puing belaka. Itulah sebabnya Yeremia mengatakan dalam Yeremia 22: 5 “Tetapi jika kamu tidak mendengarkan perkataan-perkataan ini, maka Aku sudah bersumpah demi diri-Ku, demikianlah firman TUHAN, bahwa istana ini akan menjadi reruntuhan.” Itulah keberanian Yeremia menyampaikan pesan dan kritik sosial ke istana. Suara nabiah disampaikan tanpa takut terhadap raja, karena pesan itu adalah bersumber dari Allah dan Allah sendiri yang mengutusnya. Pesan yang disampaikan adalah kesempatan baik bagi istana untuk menyelamatkan raja dan segenap umat dari ambang kehancuran. Tuhan Allah menolong kita untuk melakukan keadilan dan kebenaran dalam hidup keseharian kita. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s